I Named Her “Laila”

November 6, 2007 at 3:23 p | Posted in lucu | 51 Comments

aku tidak tau namanya, jadi, ku namai saja dia “Laila”, karena dia seperti Layla Bejahna perempuan yang bersemayam dalam otakku.

seandainya aku seorang lelaki, sumpah mati, sudah ku setubuhi dia.
Bahkan menjadi perempuan pun aku birahi melihatnya.

dia perempuan ringan.
Dalam dandanannya, dalam busananya, dalam langkahnya, dalam caranya melirik, dalam caranya meletakkan tangan, dalam caranya membuka lembar buku, dalam caranya mengangguk-angguk, dalam caranya meletakkan pantat di kursi, dan dalam cara nya menyungging senyum.

Di bangku ini aku didatangi surga. Memandang bidadari dengan ipod di kupingnya. Dengan buku di tangan kanannya, dan segelas kopi. Duduk dengan menyandarkan punggung di sandaran kursi yang empuk, membuat dia hampir hilang dalam sofa besar.

Baju yang ia kenakan, cuma kaos tipis berbelahan dada rendah. ditumpuk dengan baju terusan, seperti yang banyak dipakai mekanis di bengkel. Tapi ia lebih sederhana, lebih hemat kain. Hanya sampai 3/4 paha tinggi pahanya. Mataku bisa meraba paha mulusnya. Dan aku suka cara ia duduk. Tidak peduli dengan sekitar. Ia benar-benar tau cara memanjakan mataku.

Di belakang kepalanya ada kucir kuda dari rambut pendek yang tidak hitam. Rambut itu coklat kemerahan. Bukan karena bahan kimia yang sengaja atau tidak sengaja numplek di kepalanya. Rambut itu diberi warna oleh matahari. Memberitakan bahwa dia bukan perempuan yang suka berkeluh desah hanya karena belum keramas.

Pengikat rambutnya bukan dari kain empuk. melainkan cuma karet gelang, yang hanya dengan 1000 rupiah, dia bisa mengikat rambutnya ratusan kali. Jika ia melepas karet itu, bisa membuat rambut coklatnya tercabut beberapa puluh helai dari apidermis. Tapi sepertinya dia tidak begitu peduli dengan kebotakan, dia sering menarik dan mengikat lagi rambutnya dengan karet. Ingin aku meminjamkan karet empuk di rambutku, tapi dia tampak begitu hewani dengan karet murah itu.

Dahinya seperti pualam putih yang dihajar sinar senja. Kadang melintaskan tiga garis horizontal saat dahi sedang mengernyit. Tapi garis jelek itu, tidak sedikit pun merusak karya agung parasnya.

Alisnya seperti hutan tropis yang lebat. Seperti jajaran pohon palem yang sengaja ditanam para arsitek kontenporer. Alisnya hitam legam, dengan ujung selancip mata arit. Dengan pangkal yang tebal, tebal dan lancip. Lancip, meski tanpa sentuhan pisau silet.

Di bawah alis tebal lancip itu, terlukis mata yang darinya aku melihat dunia.
Mata yang seramai pasar malam. Pasar malam yang hiruk sepanjang malam.
Mata yang sehening pekuburan. Pekuburan yang angker dan ter-keramat-i.
Mata yang seagung niagara. Niagara yang dengan meludahinya pun takkan mengurangi keagungannya.
Mata yang selapang sahara. Sahara yang menyesatkan, walau datar.

Cara mata itu memandang seperti seekor Hyena oportunis. Licik. Membuat korbannya memenuhi hasrat peperangan. Cara mata itu memandang seperti kabut di danau, yang menelan nelayan. Sorot nya seperti palung kejam.
Bola mata berwarna coklat burgundy itu bisa teduh. Sangat meneduhkan seperti halte bus di saat hujan deras.
Caranya melihat kadang seperti sekumpulan perempuan penggosip yang menghukum objek tanpa bukti namun berpengaruh. Kadang seperti anak kucing yang kehilangan tetek induknya. Kadang matanya seperti akan menghabiskan seribu malam untuk bertanya satu klausul.

Hidungnya, ku gambarkan seperti siku monitor, siku laptop, siku CPU, siku hape, siku digital kamera, siku ipod nano, lancip, keras, kadang pun melukai.
Seperti sarang tawon yang menggantung. Seperti kondom yang terisi sperma.
Seperti… ah.. seandainya saja aku di perkenankan menjawilnya, pasti aku akan bercerita tentang banyak gelombang. Sayangnya melihat pun aku hanya tertunduk.

Lehernya seperti jalan bebas hambatan. Seperti stasiun kereta api yang punya banyak rel. Seperti pemberat barbel. Seperti botol-botol bensin. Saat dia menegak kopi, kelenjar tiroidnya yang kecil bergerak naik dan turun seperti gerakan pasangan yang bercinta.

Dan dadanya..
Seperti gunung Himalaya, yang mencongkak-i langit. Di dalamnya mengalir sungai-sungai lava dan dengus yang panas. Aroma dan pemandangannya selalu menghipnotis pendaki untuk selalu berusaha mencapai puncak, demi ego.
Dadanya merayu kepalan-kepalan untuk mengepal. Aku memintal angan membenamkan mukaku di tengah buntalan itu.
Aku tau, betapa Pierre Cardin Vintage Collection dengan kawat penyangga yang di pakainya sudah berjasa menjunjung sintalannya menjadi sempurna. Membuat garis tengah horizontal itu seindah pelangi.

Aku keheranan membayangkan tentang bentuk putingnya. Juga zona merah muda yang mengelilinginya. Seperti Himalaya dan saljunya. Seperti putri dan tentaranya. Seperti laut dan pulaunya. Keberadaan dadanya, sangat menggangguku seperti gundukan di tengah jalan. Sangat mengganggu.

Perutnya, seperti papan catur. Serata matras yoga. Selurus jalanan di jambi. Iya, perut itu semulus jalan tol. Jalanan tanpa polisi tidur. Andaikan aku dapat melihat pusarnya, pasti itu seperti palung di tengah samudra.

Dan, ah… biarlah kalian para lelaki saja yang membayangkan vaginanya. Karena tak pun ada gunanya buatku. Aku tak akan mengagumi di bagian sana. Aku akan kecewa, seandainya dia tak mencukur bersih semak-semak disekitarnya. Aku tak akan meng-aromanya. Biarlah kalian para lelaki saja yang meneteskan liur di sana.

Kakinya bagai paku bumi yang melayang. Seperti bulu ayam. Jenjang dan panjang, mulus dan kecoklatan. Perempuan itu sepertinya buta, dia tidak melihat ada berpasang² mata yang meremas-remas mulus pahanya dengan pandangan lacur.

Perempuan itu seperti punya sulur-sulur, tentakel-tentakel, yang tidak terlihat dipunggung. Dia menarik-narik, memaksa juga menyeret-nyeret orang di sekitar untuk menikmati pemandangan di tubuhnya. Setelah orang-orang melihat nya, dengan segera dia berubah menjadi Medusa, yang mengutuk siapa saja yang melihat menjadi batu.
Membatu…
Membatu dan melihatnya…
Aku pun.

perempuan itu seperti Laila Bejahna ku
Laila-ku tanpa irama, tapi dia musik yang tak bernada.
Laila-ku punya jiwa tanpa rasa, tapi dia karya seni.
Laila-ku membuat konak banyak lelaki tapi dia multifungsi.
Laila-ku bintang porno visidi 7500-an, tapi dia menjual diri dengan gengsi.
Laila-ku sudah lama tidak perawan, tapi otaknya menolak diremehkan.
Dia seperti Laila-ku.
Perempuan di dalam otakku.

51 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wow.. layla.. you are awesome..

  2. hidup kamu penuh fantasi
    tapi ego kamu menolak keras untuk masuk ke dalam fantasi kamu
    kalo kamu tanya pendapatku ttg tulisan ini, aku cuma bisa tersenyum
    uh huh.. itulah kamu..
    that’s what i like ’bout you heheh..

    mungkin kalo aku yg dulu akan ngiler, kesengsem ma perempuan itu
    tapi melirik ke sejarah percintaan ku yg dulu2 (weleh..) aku berasumsi kebanyakan (bukan berarti semua) perempuan seperti itu otak nya berukuran lebih kecil dari homer simpsons..
    jenis perempuan yg cuma mengandalkan fisik mending ke laut aje… hehehe

  3. layla ah layla..

    sebuah artifisial fantasi yang tak tergambar nyata..

    aku bisa merasa bahwa dia mengundang harga yang pantas untuk dilihat.. dia menawarkan banyak kemolekan.. namun ingin sekali aku bisa menjadi pejantan pikirnya dengan pengetahuanku..

    dia mungkin hanya bisa menerima apa yang logis, namun setelah dia mengenal yang tak logis, dia akan mulai lebih hidup lagi..

    ***********

    haha.. layla..
    kamu dimana? layla.. siapa yang menangkapmu sekarang? s$iapa yang ‘membelimu’ pada akhirnya ?

    apakah dia cukup perkasa untuk merangsang pikirmu? atau dia hanya merengkuh tubuhmu dan mengagumimu dalam sangkar emas?

    kenapa tak kamu perkosa saja semua laki-laki dengan kata-katamu…

  4. mau dunk no hapenya layla👿
    kamu knapa ya? ga puas dgn keadaan yaaaa😈

  5. @enak tenan : dia enggak cantik..
    dia seperti punya sesuatu di jiwa nya, seperti memancarkan inner.. tapi enggak cantik..
    tapi perempuan dengan otak sekecil homer kah yang membaca buku di cafe??, bukan membaca menu??

    @om Irdi: waw.. such a bitch laila ha..
    hahahahha… aku suka “memperkosa semua laki-laki dengan kata-kata” i wish i could..
    ups..
    i wish layla could..

    @om “K” : nomer hape nya layla 111 om..
    enggak puas gimana om??
    *penasaran… penasaran*

  6. walah, ini sengaja yaks, mengundang birahi😈
    tapi tidak, ini seperti-nya visualisasi dari ke sebuah penampakan fana gairah terpendam? hmmm…mungkin saja😉

  7. TIDAAAAAAAAAAAKKKKK… AKU BUKAN LESBI!!!!!
    BUKANNNNNNNNNNNNN….

    *kecuali kepepet*

  8. wow!

  9. apa secantik lagunya Eric Clapton?

  10. skrinsyutnya pliss..

  11. Ahh,..
    dari pada layla yang loe sebut disini,..
    gw lebih memilih tidur dengan yang menulis ini..

    Kenapa??

    Karena fantasi loe saja bisa membuat Layla “sexy menggiurkan”..
    apalagi yang nulis seandainya benar2 ada….

  12. @om Morishige : weks..

    @om CAplang pake TM : mmm… enggak secantik itu sih om.. mungkin dia secantik “the unforgiven” nya metallica, atau “behind the blue eyes” nya limpbiskit, atau lagi seperti “RX Queen” nya Slipknot.., mmm… dia perempuan lembut dengan chasing boncel..

    @O Klikiri : mmmm… sayang nya waktu itu kamera digital ku ketinggalan, dan aku anti hape berkamera.. trus gimana donk…

    @Om Kapucino : weks.. maksud nya “yang nulis seandai nya benar² ada” itu gimana to om??

  13. @mas kapucino: aduh…
    @mas irdix: baru tau perkosaan pelakunya kata kata *ntar polisinya bingung ngetik pelaporannya lagi*
    @om K: hayah…eh stock cewek jomblo ku lagi banyak loh..gelem?
    @all : ampun deh kalian ngebayangi laila kayaknya kok dari fisiknya dan sisi sexualnya..baca lagi deh..ampun dah, perhatiin kata katanya lagi,pesen sebenarnya adalah menggambarkan jiwa laila sebenarnya..simple,love freedom,selfish,sincere,big dreamer..etc..read again please..hehehehe

  14. saya mbacanya sampe keringetan lho..!!!
    (soalnya sambil maem lalapan sego-sambel)

    bahsanya bagus ya?
    puitis tapi ndak mbingungi orang awam kayak saya

  15. Terima kasih. Tulisan ini benar2 memberi wawasan baru bagi saya. Sumpah, baru ini saya tahu bahwa Piere Cardin memproduksi BeHa….

  16. @mas danny.

    heheh.. kayaknya bukan mas..
    layla itu wujud sensitif dari lajang jalang.

    menemukan sendiri dan pemerkosa ide-ide, tp dia melakukannya dgn cantik.

    fisik? well.. dia punya nilai untuk garang kulitnya, laila bukan perempuan, dia itu jiwa laki-laki yg nyasar ke sosok perempuan.. dan lelaki tetap lelaki, bebas.

    eh, tp mbuh ya.. huahahaha..

  17. @pakne : aku dapet asisten nih.. hohohohoho..

    @Imil : hihihiihih… aku ikut laperrrrrr… pengen ikan asin ama tempe jaket.. *meleeeerrrr*

    @Ko Besar : weks.. lah selama ini ko besar tau nya pierre cardin memproduksi apa to ko? yang pasti enggak produksi PDA deh.. ehm.. ehm… mbak…*sensor*… *ketip-ketip*

    @om Irdix : lu kate laila ku banci!!!! enak aja..
    *masih dendam karena di usir dari blog nya*

  18. @tante ulan : WEW… sapa yang ngomong gituuu.. emang badan cowok berjiwa cewek ? trus jalan-jalan pake baju warna pink n rok gitu ??? *byor*

    jadi nie ngusir dari blognya.. ga bole ksini lagi.. GRAAAAAWWHHH……

    *emang gw pikirin*

    (berencana ‘pup’ sebanyak-banyaknya di blog ini)

    *ndangdutan ah…*

  19. layla layla…namanya kok kayak lagu2 di india

  20. Layla, sepertinya terobsesi dari novel Ayu Utami, fragmen Laila Tak Mampir di New York. Hehe. Tapi bagus kok.

  21. @om Irdix : perang tetap berlangsung!!!!
    aku juga bakalan pup ke blog mu
    bweeeeeeeeeeekkkk
    *melet*
    awas lu ye!!!

    @om Mujib : om.. emang kenal mbak yanti om?? kok kemaren mbak yanti tanya kamu ke aku??

    @om Pandapotan MT Siallagan : Ayu Utami yang mana om? ayu utami aku baru baca satu, saman, itu aja pinjem, larung ama “mereka panggil saya monyet” malah baru belakang nya doank, kekekekek..

  22. waaau seperti syair laila majnuuun…😀
    asyik gila!

  23. @om Kurtubi : weks.. saya laila bejahna mas, bukan laila majnun, laila majnun nya malah cuma setengah mbaca nya.. kekekeke.. jangan di sama-in atuh kang, laila majnun ama laila bejahna, kalau laila majnun kata-kata nya agung dan mulia, tapi laila bejahna kan omong kotor semua, aaaaahhhhh… jadi pengen malu…
    *memaksakan diri untuk malu*

  24. laila kamu dulu alumni mana???😀

  25. laylay pangging aku si jablay.. hihi

  26. layla..sapa sih ?? ada gambar ?? *ngarep dot com, tapi akbur ah*

  27. layla, apa khabar? …

  28. hot gini mbak laila..

    yang nulis masih normal tho?
    lum kepepet jadi lesbi tho?

  29. ::hah ulan..bejahna layla…, koq layla jadi tambah asyik yak…, *menghidar dari peneropong*

  30. a fantasy? maybe, try to make it real? hmmm…. think think think (kayak Winnie The Pooh)

  31. wuah… ulan! haibat! tulisan dahsyat nih, pujangga😀

  32. @mas Alief : lah mas Alief bisa aja, saya jadi malu..
    gimana mau jadi alumni wong sekolah aja enggak..
    *berusaha malu*

    @mas Anang : heheheh… master TPC, salut master..
    makasih singgah nya.. hehehe..
    kalo ada getring besar lagi, jangan lupa sebar undangan ya..

    @mas Andi Bagus : lah mas Agus ada temen nama Laila?? waaaa… cakep nggak??
    *melerrr…*
    sluruuuupppp

  33. @mas Laksono: baik mas..
    njenengan pripun??

    @mas Endjivanhouten : wah nama nya panjang tapi aku sukses nulis nya
    hhhohohohohoho
    lah apes nya sampe saat ini kok saya belum di pepet eh kepepet untuk jadi lesbi, padahal saya ngarep, lha “laila” nya ayu e..

    @mas Zal : lah teropong nya pake lup kok mas jadi enggak papa..

    @mas Yuki : waduh kalo mau di jadiin kenyataan saya repot cari object penderita nya mas, *penderita serangan tanpa balasan* (ngomong apa sih)

    @mas Fahmi : lah aku pujanggi mas..
    heheheh…

  34. jang panggil om dong. saman dan larung kan satu kesatuan.

  35. @pakde Pandapotan MT Siallagan : iya deh nggak saya panggil “om” lagi.., iya itu duo logi yang nyambung tapi enggak nyambung, nah loh.., eh maaf “mereka panggil saya monyet” ternyata bukan punya ayu utami, itu punya syeh siti djenar maesa ayu

  36. jeng….kalo kamu memang benar2 pencinta wanita…
    aku punya temen yang cucok buad muw….

    email aja ke emailkuwh….hehehehehe🙂

    ceritamu bikin aku pusing…

  37. @mas Owbeth : mmmm…
    pusing yang mencurigakan…
    mm…
    kepala… enggak jadi deh..

  38. emang yang boleh ngasih nama tokoh dalam tulisannya Laila cuma Ayu Utami?
    tapi kayaknya keren yach memperkosa pikiran dengan kata-kata (tulisan).

  39. gaya penuturan yang bagus
    (tak terfikir oleh saya menulis yang terlanjur kamu tulis)

    … Layla nama yang sangat bagus

  40. @ mbak Marsitol :
    hehehehehhe… satu-satu nya keperawanan yang harus tetap kita jaga, keperawanan pikiran, tanpa pemerkosa-pemerkosa, yang memperkosa perkosaan pada pikiran, itu kedjoliman..

    *nah loh.. aku abis kesambet apa ini tadi..*

    @ mas dAN :
    tulis yang terlanjur mas dAN fikir aja mas, jadi saya bisa melanjurkan pikiran saya ke blog nya mas dAN,

    *kesambet saya belom sembuh*

  41. :: ::
    “nah loh.. aku abis kesambet apa ini tadi..*
    kesambet jin dinosaurus…😆
    jadi ulan pemerkosa ya…😯
    irdix lagi diperkosa tuh…bantuin gih memperkosa irdix yg sudah berubah jadi raksasa…:mrgreen:

  42. mas Zal :
    aduh kalo merkosa om Irdix, aku serahkan seutuh nya ama mas Zal aja deh, ambil bulet-bulet, aku nyerah wes.. aku rela.. ikhlas setulus hati sedalam jiwa.. monggo di persilahkan.. aku mau…
    kabuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrr….

  43. ::hah…😯 ulan kabuuur… *celingak-celinguk* ada affa …ada affa *baca mantera-mantera raib*

  44. weh on Zal sakti ya…

  45. opo maneh kie??

    kok saya diperkosa disini sih?? cari tempat yang agak enak dong.. :p
    hmm.. sebenernya ada apa sih antara irdix dan ulan??

    eh.. aku irdix ya :p *kabuuurrrrrr*

  46. wah …

    • Wah apa ni mas?

      • Miss, keren tulisan mu …;)

  47. eh ganti nama?
    ditunggu bancakannya..😀

  48. Layla yang tertukar #halah

  49. bolehkah aki sekejap kepayang dan dengan diam, diam mencintai layla.
    karna serdadu sepertiku tak arang melihat kecantikan tutur lembutmu menjamah isi kepala.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: