Fiksi (aku masih lagi kecil..)

April 2, 2008 at 3:23 p | Posted in cuma hasil menghayal, lucu | 19 Comments

Aku terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan. Pada saat aku lahir, bapak sudah memiliki tiga buah mobil, satu buah televisi, satu buah rumah di kota lain, dan sebidang tanah yang cukup luas. Kemewahan yang masih langka di akhir tahun 70-an. Bapak mendapatkan itu semua dari jabatannya yang sudah cukup tinggi saat aku masih lagi kecil. Kegiatan ibu sehari-hari berdarma wanita dan mengelola salon, juga mengurus aku dan dua orang kakak laki-lakiku.

Pada saat aku duduk di Taman Kanak-kanak, beberapa orang polisi datang ke rumah. Ini bukan kejadian yang aneh, setiap hari anggota bapak selalu datang ke rumah. Yang aneh adalah, biasanya mereka datang dengan hormat karena bapakku sebagai atasan mereka. Tapi tidak dengan hari ini. Mereka datang dengan congkak dan kasar. Mereka mengambil bapakku, itu yang aku tau.  Yang aku ingat, aku meraung-raung minta ikut, dan ibu menangis sesenggukan sambil memegang semua anak-anaknya.

Aku lari sekencang aku bisa mengikuti mobil yang membawa bapak, sementara ibu mencoba mengejarku dengan air mata berjatuhan di pipinya.

Bapak berlalu sambil berteriak-teriak menyuruh aku pulang. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, yang aku tahu airmata bukanlah situasi yang biasa aku temui di mata ibu.

Aku memandang ibu dengan pertanyaan yang berkecamuk di kepala anak umur empat tahun
kemana bapak?, kenapa aku enggak di ajak?” ,
“kenapa anak buah bapak jadi kurang ajar?, kenapa mama nangis?”

Setelah hari itu, aku tidak pernah tahu bapak ada dimana. Dia tidak lagi pulang setiap jam dua siang seperti biasanya. Ibu juga menjadi jarang di rumah. Ibu cuma bilang kalau bapak sekolah lagi. Tapi ia menangis setiap malam, dan kakak-kakak jadi mulai malas bermain, aku bingung dengan keluargaku.

Ibu tidak lagi aktif dengan kegiatan ibu-ibu Darma wanitanya, juga tidak lagi mengelola salon. Ia kini sibuk di kantin kepolisian, masak dan menyediakan makan siang untuk orang-orang yang ada di sana. Aku tidak lagi diantar ke sekolah, dan tidak ada lagi yang menjemput. Tidak ada lagi yang menemani bahkan mengingatkan aku untuk belajar sepulang sekolah.

Salah satu kakakku pergi, “Ikut Bude” kata ibu. Rumah semakin sepi, dan aku semakin sering bertanya “Bapak kemana?” Mungkin ibu mulai bosan dengan pertanyaanku “pokoknya, kalau ada yang tanya bapak kemana, bilang bapak sedang sekolah”. Dan itulah jawaban yang selalu aku berikan pada siapapun yang bertanya tentang bapak. Kecuali untuk diriku sendiri.

Aku tidak percaya ibu, jawaban demi jawaban justru aku kumpulkan dari cibiran tetangga bahkan teman-temanku sendiri. “Jangan berteman dengan anak Napi” bisik mereka. Lalu pertanyaanku pada ibu berubah menjadi “Napi itu apa ma?”

Suatu saat ibu membawaku ke sebuah kantor polisi untuk pinjam telepon pada salah seorang anggota. Dari seberang aku mendengar suara serak bapak. Begitu banyak pertanyaan yang ada di kepala, aku muntahkan semua saat itu, bapak hanya bisa tertawwa dengan suara yang sesegukan. Begitu juga dengan ibu yang memangkuku, kami menangis bertiga. Tangisku tangis bahagia. Aku mendengar suara bapak yang sudah aku rindu sejak lama.

Kurangnya perhatian dari orang tua membentuk aku jadi murid yang pendiam, pemalu dan rebel. Aku bukan anak yang cerdas lagi. Bukan anak yang ceria juga.  Dulu aku bergaul dengan teman-teman, tapi sekarang aku memilih  duduk di tiang bendera di tengah lapangan, bahkan saat terik matahari. Hari itu aku merasa ditinggalkan, dan sepi dan kesepian menjadi teman paling akrab.
Akulah tiang bendera itu, sendiri di lapangan yang luas.

Karena kesibukan ibu mencari uang untuk kebutuhan keluarga, aku berangkat dan pulang sekolah sendiri sejak kelas 3 SD. Pergi dan pulang sekolah menggunakan “labi-labi”, nama angkot di Aceh. Menginjak kelas 5 SD aku menemukan cara membolos sekolah alias “cabut” dengan sendirinya. Tidak seperti anak SMP atau SMA yang biasanya melompat pagar sekolah lalu berkumpul di suatu tempat sambil bersenang-senang. Sementara aku cabut untuk sekedar keliling kota jalan kaki melewati pasar, dan berhenti saat ada menemukan kucing.  Aku akan sampai rumah sampai pada pukul 10 pagi dan ibu akan bertanya; kenapa pulang cepet?”.
Selain Belajar cabut, aku juga belajar pelajaran kedua: Berbohong.
“guru nya rapat.”

Ibu adalah perempuan tangguh, tapi dia manusia dengan banyak kekurangan dan kebutuhan, jauh dari suami merupakan ujian berat buatnya, aku tau, dia pun butuh seseorang untuk membagi kesusahan nya, untuk membagi hasrat nya, sehingga suatu hari aku menemukan mama dan seorang lelaki dalam keadaan bugil di tempat tidur, saat aku terjaga dari tidur siang,

dari kejadian itu aku belajar tentang menjaga rahasia, aku pun semakin introvert dan tertutup, di tahun yang sama dan umur yang hanya beranjak sedikit aku sudah tau arti perselingkuhan dan penghianatan,
aku berumur 6 tahun waktu itu, aku belum tau cara komunikasi yang tepat dengan lelaki, apa lagi yang jauh lebih tua dari ku, jadi aku berteriak aja dari kamar mandi, aku takut dia dateng dan mukul aku, jadi aku kunci kamar mandi dan berteriak
“laki-laki macam apa kamu, kan udah tau kalo mama udah punya suami, udah punya anak, kenapa di tidurin juga??”

setelah itu aku dengar teriakan mama, menyentak aku, lelaki itu cuma diam, aku enggak tau apa yang di lakukan nya, tapi waktu suasana sepi aku keluar dari kamar mandi tanpa baju, dia menyergap ku dan menciumi ku, aku teriak sekuat tenaga, aku benar-benar jengah dengan laki-laki itu, aku muak dengan kumis nya yang panjang, dan aroma badan nya, sampai mama datang dan memisahkan aku dengan lelaki laknat itu,
aku menangis sejadi-jadi nya..

di umur 7 tahun aku mulai mengenal strategi, aku tau mama hari itu akan menemui lelaki itu di suatu tempat yang aku enggak tau, mama waktu itu bohong dan bilang pergi ke tempat teman nya, yang anak nya teman baik ku,
maka setelah mama pergi aku tau mobil laki-laki itu pun pergi dari kontrakan nya yang enggak jauh dari tempat ku, aku kejar mobil mereka dengan sepeda roda tiga ku, dan aku mampir ke rumah sahabat ku, kali ini aku cari mama nya, dan mama nya dengan lugu bilang kalau mama ku enggak ada rencana main ke rumah nya, aku pun sadar aku terlalu naif untuk percaya pada mereka,

keesokan hari nya, saat aku tau mereka akan bertemu di luar lagi, aku belajar cara membuka pentil mobil, dan aku benar-benar tidak mau mama pergi jadi aku dengan senang nya membuka 4 pentil mobil nya dan ku buang tutup nya,
dia tau.. tapi aku yang marah, di umur itu aku sudah tau mengintrograsi, aku menanyai kebohongan mama kemaren, dan semua bukti yang aku punya waktu itu, setelah nya,mama enggak jadi marah, aku berhasil menahannya pergi hari itu..

lelaki itu merokok di rumah, dan di kelas 5 SD aku memungut rokok nya dan terbatuk-batuk, tapi itu tidak membuat ku jera, aku terus menghabiskan rokok nya supaya dia kesal,dan menghabiskan uang nya untuk rokok,aku pikir seandai nya dia kehabisan uang dia akan pergi dari mama, ternyata selama ini mama lah yang membelikan dia rokok.. bodoh nya aku..

umur 9 tahun aku tau arti menjaga keutuhan rumah tangga, bapak pulang ke rumah, dan aku selalu sangat gembira waktu dia pulang, tapi mama selalu memdogma aku untuk enggak pernah cerita ke bapak tentang laki-laki itu, tapi bapak tau ada laki-laki itu di rumah ini..

bapak pernah pulang ke rumah tengah malam, dan aku terbangun mendapati laki-laki itu tidur di sebelah mama, begitu ada ketukan pintu dari bapak aku seperti kenal dengan ketukan itu, aku langsung lari kedepan, tapi mama sigap menarik tangan ku, dan menahanku lebih lama, aku teriak
“bapak.. bapak..”

mama mengulur waktu agar laki-laki itu bisa keluar dari pintu belakang, tapi aku sudah terlalu senang untuk ketemu bapak, belum mama selesai mengeluarkan laki-laki itu aku sudah membukakan pintu dan menghambur untuk di peluk bapak, seperti nya bapak tau ada yang tidak beres, aku tau jika bapak tau laki-laki itu mama dan bapak akan bertengkar, aku bercerita sebanyak yang aku bisa memeberi waktu untuk mama mengeluarkan laki-laki itu, aku minta perhatian bapak dengan banyak bicara dan rengek-an,

malam itu mama berhasil mengeluarkan lelaki itu dari rumah tanpa sepengetahuan bapak, tapi tidak pada malam berikut nya saat bapak pulang, tengah malam itu aku di kurung di kamar, tapi aku tau ada yang bertengkar di luar dan ada suara teriakan-teriakan mama terus menerus, aku takut, aku nangis, aku enggak suka denger teriaka-teriakan itu, aku enggak suka suara gaduh itu, aku pengen ada yang memeluk waktu itu, aku panggil-panggil bapak untuk minta di peluk, tapi seperti nya setelah itu aku aku tertidur dan saat aku bangun aku ada di pelukan bapak.. dan aku senang..

siang hari nya mama ngajak aku bicara, kali ini aku bingung, kenapa aku di ajak bicara secara orang dewasa, aku dan mama duduk berhadapan, tidak seperti cara yang biasa nya, biasa ya dia bicara saat aku berlarian,dia bicara seperti ini
“nak.. nanti kalau bapak tanya kamu mau ikut bapak atau mau ikut mama, bilang ama bapak kalo kamu mau ikut dua-dua nya ya..”
aku heran, aku bingung, tapi aku senang , karena aku berfikir kalau saat aku kangen sekarang bisa ikut bapak, aku bisa milih antara ikut bapak atau mama sewaktu-waktu..

tapi perasaan senang itu tidak berlangsung lama, setelah mama bersikap aneh dengan berbicara dengan ku dengan cara orang dewasa, kali ini bapak juga melakukan yang sama, tapi aku ada di pangkuan nya, bersandar di dada nya,
dia tanya
“kalau di suruh milih, milih ikut bapak apa ikut mama??”
aku bilang seperti pesan mama, aku ikut dua-dua nya, tapi bapak bilang
“enggak bisa, kamu harus milih, kalau kamu mau ikut bapak, kamu enggak bisa ikut mama, kalau kamu ikut mama, enggak bisa ketemu bapak..”
selesai bapak bicara itu aku tidak lagi sandaran di bapak, aku memeluk nya erat sekali aku tau kalau pelukan ku erat karena setelah itu kulit bapak terluka oleh cakaran kuku ku..

Advertisements

19 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. keep writing
    sense yang kau bangun udah sip 😀

    **nyaris saya berpikir ini kisah nyatamu sendiri**

  2. wah…kukunya udah panjang…
    ayo dipotong dulu biar nggak dihukum sama bu guru 🙂

    salam

  3. hm……….
    [gw suka gaya lo, ulpe!]

    btw, anak umur 6 tahun, kok udah tau istilah “ditidurin” ya?

  4. Apik,meh kelintas tulisane seno ag.

  5. 😆
    brilliant…
    benar-benar mengalirrr…
    *menjura* :mrgreen:

  6. kok umur 7 taun masih naek roda tiga? 😦

  7. Hidup memang berat, apalagi dipertemukan dengan sebuah pilihan dalam usia anak-anak, dan memilihpun bukan perkara yang gampang akhir-akhir ini, sekalipun buat orang dewasa yang matang sekalipun, entahlah.. mungkin tak semua pilihan yang tersedia sesuai dengan keinginan

  8. “btw, anak umur 6 tahun, kok udah tau istilah “ditidurin” ya?”

    kata2 ini kan sudah sering nongol di sinetron .. tau lah 😉

  9. ceritanya menusuk! sangat menusuk!
    aku sangat merasakannya… sangat… di paragraf terakhir itu sarat luka!

  10. eh..bersambung..
    aduuhh udah pewe nih jeng..ayok dilanjut..

  11. iya panjang sekali tulisannya…ada ringkasannya gak lan? hiks… :p

  12. hmmm 🙂

  13. Ah, aku tau pria berkumis itu. Brewok toh? Suka pake topi ijo dibalik…. :-“

  14. Andai tata bahasa dan cara penulisannya lebih rapi, tentu akan lebih bagus. 😉

  15. “waktu itu ulan cabut untuk sekedar keliling kota jalan kaki melewati pasar, nyari kucing tidur, mencoba menarik diri dari komunitas sekolah dan rumah, sampai di rumah jam 10 pagi dan mama pasti tanya”

    tak pikir itu crita temenan mbak ul

  16. Gaya nulisnya bagus,,bikin yang baca kebawa untuk membayangkan kejadiannya,,
    diasah terus yah,,

  17. gue kirain… beneran, soalnya gak sempet baca judulnya lsg ke tulisan.

  18. *Gedubrag* Bu`ungan telnyata !!! *buang tissue*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: