Kepada Perempuan Hebatku

March 11, 2015 at 3:23 p | Posted in lucu | 14 Comments

IMG_1845

Waktu duduk di bangku kelas 3 SMP, aku sering ditegur oleh guru, karena rok sekolah yang aku pakai sekarang tingginya sudah sebetis. Aku bertambah tinggi ternyata, sementara rok sekolah itu tidak pernah ganti dari aku kelas satu. Seorang guru sekolah mengancam akan memanggil orang tua jika besok aku belum memakai rok yang panjangnya semata kaki. Tentu permintaannya wajar, karena bagaimana mungkin aku mengenakan hijab sementara rok tingginya sebetis.

Dengan berwajah cemberut aku pulang ke rumah, dengan menggunakan sepeda butut, yang sudah lama juga aku merengek minta yang baru.

“kok pulang-pulang mukanya cemberut?” sapa ibu saat aku mencium tangannya

“disuruh bikin rok baru nih, rok yang ini udah kependekan katanya” aku melengos ke meja makan.

Keesokan paginya, aku bangun dengan tidak bersemangat. Ingin sekali bolos sekolah, karena hari ini sudah pasti kena tegur lagi. tidak mungkin aku punya rok baru secepat itu. Aku sebal dengan ibu. Bagaimana bisa ia membiarkan aku mengenakan rok yang sama dari kelas 1 hingga kelas 3.

Ibu membangunkanku. aku membenamkan kepalaku di bantal.

“sekolah wul, itu ibu udah beli kaos kaki”

“ha? kaos kaki? buat apa? disuruhnya kan rok, bukan kaos kaki” aku makin kesal

“ya kan rok kamu udah tinggi, jadi kakinya keliatan, daripada buat rok baru tinggal sebentar lagi lulus, mending pake kaos kaki yang panjang aja”

aku kembali membenamkan mukaku ke bantal. aku makin kesal. kenapa ia pelit sekali pada anaknya

Sampai saat lulus SMP, aku masih menyimpan kesal, karena aku harus memakai kaos kaki tinggi setiap hari. sampai aku ia membelikan sepeda baru yang sudah lama sekali aku inginkan.

Sampai hari ini, sifatnya masih sama. Ia selalu menghitung setiap rupiah yang akan dikeluarkan. apakah itu penting atau tidak, apakah itu bagus atau tidak, apakah ada pengganti yang lebih murah. dulu aku selalu kesal karena itu.

Sekarang tidak lagi, semua yang ia lakukan tergambar jelas bukan untuk kepentingannya. aku hanya dibuatkan 1 rok sekolah memang saat aku SD, SMP dan SMA, tapi ibuku sudah berhenti membeli baju untuk dirinya sendiri, bahkan jauh sebelum aku merengek minta rok sekolah. Aku bahkan tidak pernah tau wajah lain selain wajah lelahnya. Ia tidak memakai make up selain bedak tabur. Tidak pun mengenakan lipstik selain pemberian saudaranya.

Tapi ia lupa menghitung rupiah setiap ia membeli berkarung-karung beras untuk dibagi-bagikan tetangganya.

Ia bahkan tidak pernah tertinggal berkurban setiap tahunnya.

Ia bahkan merelakan sebagian tanahnya untuk Mushola.

“masih banyak orang beli beras setengah kilo sama telur sebutir, kamu bersyukur saja”

Dia ibuku, tak mungkin aku tak bangga

14 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Mungkinkah, alinea tentang musholla itu harusnya tidak perlu ditampilkan? Mamamu perempuan hebat🙂

  2. emak yang luar biasa!
    turut berbangga

  3. wah ane gagal pertamax😥

  4. Kunjungan malam, ijin ninggalin jejak bro …

  5. Salam buat ibu mbak🙂

  6. ninggal jejak😀 baca2 dulu

  7. Salam kenal, salam blogging dari Semarang

  8. blogwalking siang gan….

  9. hmmm… sudah lama ya gak nulis. ayo nulis lagi, banyak yang kangen!

  10. Bergetar hati ini kaak😥

  11. artikelnya penuh dengan kebisuan :v

  12. pengen dishare, moga2 jadi berkah nihh

  13. sangat mengispirasi sekali buat kaum muda🙂

  14. gan, tolong dong di apdet lagi postingannya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: