Teman

January 30, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 1 Comment
Tags:

Hai teman

Terima kasih menemaniku siang dan malam.
Terima kasih selalu ada disaat aku membutuhkan.
Terima kasih membuatku tak pernah merasa sendiri.
Terima kasih untuk menampung air mata dan gelak tawa.

Kita memang sering berbeda pendapat. Aku tahu, akulah yang keras kepala. Kau selalu akhirnya mengalah, dan aku akhirnya sadar kesalahanku.

Aku bersyukur sekali kau dulu tak pernah pergi dariku, tidak seperti kebanyakan teman lainnya, kau pergi hanya saat aku tak ingin ada kamu. Kau sangat pengertian.

Aku sering membanggakanmu pada teman-teman lainku yang tak pernah setia. Aku ingin mengenalkanmu pada mereka. Tapi kenapa mereka selalu mengerutkan kening mereka. Kadang aku dianggab gila. Mungkin mereka tidak percaya, di jaman seperti ini, aku masih punya teman sepertimu.

Tapi aku menjadi ragu, setiap mereka bersamaku, mengapa kau tak pernah ada di sana? Apa kau malu pada mereka? Apa kau merasa tak nyaman? Aku bahkan mau kehilangan mereka dan hanya mempunyai satu teman. Kamu.

Mereka tidak juga mengerti, walau aku coba jelaskan berkali-kali. Mereka bilang kau tak pernah ada. Mereka bilang kau hanya hayalanku. Mereka bilang kau hanya imaji. Aku tahu mereka iri.

Sampai hari ini, kau telah lama pergi, mungkin mereka menyakitimu. Tapi aku selalu menyayangimu.

– teman nyatamu –

Untuk Jakarta

January 29, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 2 Comments
Tags:

Dear Ibu Kota

Ingat aku? Aku pernah lahir dari rahimmu. Kau dulu menyenangkan, semasa kecilku, sekarang tidak lagi, karena itu aku durhaka padamu. Aku pergi dan tak ingin kembali.

Tapi lagi-lagi kau menjanjikan mimpi, untuk anak-anak kandungmu, bahkan untuk anak-anak tirimu. Kau menenepati janjimu, beberapa. Kebanyakan tak kau acuhkan.

Aku pun sebenarnya tak perduli, sampai aku harus kembali dalam naunganmu.

Terakhir aku melihatmu, kau tidak terlihat ceria seperti dulu, kau lebih kusam dam wajahmu terlihat sedang tertekan. Apa kau baik-baik saja? Apakah anak yang kau asuh membuatmu begitu? Kau yang membuat mereka, atau mereka yang membuatmu?

Sabarlah ibu, semoga hujan dan dedaunan melepas lelahmu.

– anak perempuanmu yang durhaka –

Kepada Surga

January 24, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 2 Comments
Tags:

Dear Surga.

Bagaimana keadaan di sana? Aku harap baik-baik saja. Ada seorang laki-laki yang tinggal di sana, laki-lakiku. Aku tahu pasti, dia tinggal di sana, karena semasa hidupnya, ia menciptakan banyak sekali surga untukku.

Dia lelaki tua, berumur tujuh puluh dua saat dia berjalan ke sana. Rautnya sabar dan bersahaja. Penuh dengan kharisma dan wibawa.Saat pergi, dia mungkin dalam derita, tapi tak apa, ada kami yang mengelilinginya. Dia bahagia sepertinya.

Apakah ada bidadari untuknya? Apa ia cukup betah di sana? Bisakah kau katakan, bahwa anak perempuannya menanyakannya? Ingin bertemu dalam mimpi, dan ingin bicara? Semasa hidupnya, kami tak banyak bicara, tapi aku tahu ada banyak cinta.

Aku ingat kencan terakhir dengannya. Aku juga ingat senyumnya. Aku juga ingat rasa kopi buatannya. Tak pernah ada yang seenak itu, selalu manis, selalu habis sebelum dingin. Dia selalu hanya bisa minum seperempat gelas, karena kami menghabiskannya. Ia hanya bilang “kok udah abis lagi? Dasar tuyul!” Lalu ia membuat kopi lagi, dan kami habiskan lagi.

Surga, berapa harga yang harus aku bayar padamu, agar membuatnya tetap senang di sana? Aku tak punya banyak harta, bisakah aku tukar dengan jiwa atau senggama?

Mantan

January 23, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 1 Comment
Tags:

Kepada yang terhormat Mantan.

Kita pernah saling punya rasa, yang entah sama entah beda besarnya, yang pasti rasa itu membuat kita ingin selalu bersama. Saling merindu, saling menghargai dan saling menjaga.

Lalu masalah datang, kita dicoba, dihukum, dipisahkan.
Kita lalu menahan diri. Kembali pada diri sendiri masing-masing.
Kembali mempertanyakan, rasa yang dulu menggebu-gebu; “kemana perginya?”

Kemudian kita saling menyalahkan, saling menjauhkan dan saling ingin kemenangan. Kita perang.
Sebagaimana halnya perang, kita tak pernah bertujuan untuk memperbaiki. Rasa kita rusak. Kita retak. Lalu bertebaran.

Kita berhenti. Mencoba intropeksi. Mencari lagi rasa apa yang tersisa di hati. Ada rasa yang dulu, namun diliputi benci dan mawas diri. Genderang perang tidak berbunyi, namun perisai tetap pada posisi.
Kita telah rusak. Kita telah retak, dan tak bertautan.

Jika suatu hari hati kita terobati, mungkin kita akan duduk semeja lagi. Menikmati lelucuan yang kita buat sendiri. Menikmati kebodohan yang tak ingin kita gurui. Kita pernah sama sama berjuang, kita pernah sama sama lelah. Kita menyerah.

Karena rasa itu telah kita rusak. Kita retak. Dan berserakan.

Mbak Nia

January 22, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 2 Comments
Tags:

Salam hormat mbak Nia Daniaty.

Saya bukan fans mbak Nia. Saya juga tidak tahu lagu mbak Nia. Tapi saya mengagumi kesabaran mbak Nia. Saya membayangkan bagaimana repotnya punya suami seperti om Farhat. Yah… saya hanya berasumsi, saya tidak tahu pasti.

Saya kenal om Farhat juga hanya dari akun twitternya. Itupun kalau om Farhat tidak pakai admin, atau, kalau itu benar akunnya.
Tentu saja, saya tidak bisa menghakimi bagaimana om Farhat, hanya dari akunnya saja. Seperti merangkum air laut ke dalam gelas.

Sayangnya, saya jadi tahu rasa asin air laut yang saya rangkum di dalam gelas. Saya jadi tahu, air laut tidak menghidupi saya. Saya jadi tahu, air laut tidak melepas dahaga saya.

Tanpa mengurangi hormat saya dan rasa kagum saya pada mbak Nia, saya rasa mbak Nia lah yang paling tahu bagaimana menangani om Farhat. Jika mbak Nia kewalahan, mungkin perempuan lain juga akan sama.

Berhenti sebentar pun tidak apa-apa mbak, untuk berjalan lebih jauh.

Untuk Rumput Tetangga

January 21, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 2 Comments
Tags:

Hai rumput tetangga

Kau hijau sekali, lebih hijau dari rumput di halaman rumahku. Menjagamu pasti nikmat sekali. Mengelilingimu dan membuatmu aman pasti berguna sekali. Tapi aku hanya mampu memandangmu dari kejauhan.

Diam-diam aku mengagumimu, memperhatikanmu dan memimpikanmu.
Setiap hari aku mengamatimu, membuatku lupa segalanya. Rumput di halamanku semakin kuning setiap hari, aku tak tau kenapa. Aku malas melihatnya, aku malas mengurusnya.Tidak seperti kau yang selalu hijau dan segar. Selalu indah dipandang.

Aku mulai cemburu jika pemilikmu setiap hari merawatmu, menyirammu dan memperhatikanmu. Aku mulai ingin memilikimu. Aku tidak keberatan jika aku bertukar dengannya.

Malam nanti mungkin aku akan mendatanginya, meminta ijin, dan mencari cara bagaimana bisa aku yang memilikimu, dan dia yang memiliki rumput di halamanku.

Aku semakin tak kuasa menahan ingin memilikimu.

– Pemilik rumput sebelah rumah –

Kepada Setan

January 20, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 2 Comments
Tags:

Dear Setan.

Surat ini tanpa pengirim, aku harap kau tak tau siapa pengirim surat ini. Aku tidak meragukan kemampuanmu, aku percaya kemampuan diriku, menyembunyikan diri darimu.

Kau kenal aku? Pernah melihatku? Kurasa tidak. Kurasa kau tidak perduli. Aku fans beratmu. Aku sudah lama memperhatikanmu, aku sudah lama ingin menyuratimu, aku juga ingin kau mengenalku.

Aku iri akan cintamu  pada Tuhan, bisakah kau mengajarkanku, bagaimana kau mencintai dengan begitu pongahnya. Akupun ingin melakukan hal yang sama, aku ingin mencintai Tuhan dengan sombong sepertimu.

Tapi tolong jangan beri tahu Ia, bahwa kau menerima surat ini, aku tak ingin Dia tau, dari mana aku berguru. Aku takut Dia tidak membalas cintaku jika ia tahu aku belajar darimu.

Hormatku.

– perempuan dibalik ruang ibadah –

Kepada Orang Tua

January 20, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 4 Comments
Tags:

Yang terhormat orang tua.
Kalian tak juga bisa terlepas dari salah sepertinya.
Hidup cukup lama, diasah lebih keras.
Bukankah luka telah banyak menggores?
Tidakkah membuka mata?

Yang terhormat orang tua.
Kalian berbuat banyak dosa dan berpongah dihadapan kami, pembelajar.
Belum sakitkah perut dengan terlalu banyak asam dan garam?
Sebaiknya, keluarkan saja lewat belakang, diam-diam.
Karena jika dari mulut, hanya akan buat kami muntah.

Yang terhormat orang tua.
Kalian masih bodoh juga ya?
Kami anak-anak kalian lebih bodoh lagi.
Kami membela mentah-mentah kebodohan kalian.
Sementara kalian menyalahkan mentah-mentah umur kami.
Dewasa kita jauh dari umur. Mengapa mengaitkan?

Yang terhormat orang tua.
Kami pun akan sampai pada jejak, dimana sekarang kalian berdiri.
Lalu apa yang kalian sombongkan?
Lagi-lagi waktu.

Yang terhormat orang tua.
Selayaknya hormat dan cinta tak pernah berpisah.
Kalian mencintai kami sepanjang kehidupan .
Sebagaimana kami membela kalian sepanjang dunia kami.

Surat Cinta

January 18, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 5 Comments
Tags:

Kepada Lelakiku.

Aku sering membaca dongeng tentang pangeran dan putri yang saling mencintai. Kemudian mereka hidup bahagia sebagai raja dan ratu. Setelah itu, cerita itu selesai.
Jika aku menganggapmu pangeran, lalu kau menganggapku putri, apakah kita akan hidup bahagia? Apakah kita bisa merajai dunia? Apakah cerita kita selesai? Ah, kita tak perduli.

Aku suka melihat matamu yang sayu saat menyanyikan lagu-lagu yg tak ku mengerti. Aku tak suka lagu itu. Tapi aku suka suara paraumu. Suaramu, sering terngiang saat aku basah di bawah pancuran air mandi, juga di bawah hujan. Suaramu payah, lagumu juga. Hatiku yang tidak. Hatiku yang terpuaskan oleh suaramu.

Aku suka kulitmu. Sebahagian bahkan lebih mulus dari kulitku. Kau suka kulitku? Yang tidak lebih mulus dari kulitmu?
Kita sering sengaja bersentuhan, terkadang tak ingin kesudahan, Sampai kulit kita bertukar aroma. Terbawa hingga mandi berikutnya. Lalu aroma sabun mencongkaki romansa.

Aku suka saat kita diam. Aku suka keheningan. Tapi kau laki-laki cerewet, susah sekali membungkam mulutmu. Berkali-kali ku cium pun, kau tetap bicara. Apa kau tak pernah kehabisan kata-kata?

Saat kita jauh seperti ini, berapa wanita yang kau bodohi? Entah pun kau yang terlalu pintar.
Pakai pengamanmu saat mereka benar-benar bodoh. Aku tak mau kursiku kotor setelah diduduki wanita lain.

Kalau kita bertemu nanti, bawa aku bersembunyi di tempat sunyi. Peluk saja aku, dan jangan bicara.

– perempuan mu –

Kepada Hujan

January 17, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 14 Comments
Tags:

Teruntuk Hujan.

Hai hujan, terima kasih sudah turun ke bumi. Airmu menyejukkan sekali. Dahaga bumiku terobati, kekeringan terampuni. Tumbuhan kembali berseri, hewan lalu bernyanyi. Aku terseringai.

Hai hujan, kenapa kau belum juga berhenti? Bumiku sudah cukup air hari ini. airmu sudah tidak menyejukkan lagi. Bumi sudah kenyang, sudah muntah. Ia mengeluarkan sampah, yang akan menjadi limbah.

Hai hujan, berhentilah! Kau membuat manusia susah. Kau membuat alam gundah. Hewan-hewan resah, dan tanaman musnah.

Hujan, petirmu kejam, anginmu seram. Apa kau sedang marah? Apa karena kami berulah? Siapa yang hendak kau hanyutkan? Siapa yang ingin kau lenyapkan? Apa kau memberi cobaan? Atau ini sekedar peringatan?

Hai hujan, kurasa kau hanya berkerja sama dengan alamku, melunakkan sedikit, kerak-kerak di permukaan bumi. Selesai kerjamu nanti, aku yakin, bukan hanya kerak bumi yang melunak. Mungkin juga keras kepala kami.

– Perempuan di balik jendela yang basah –

« Previous PageNext Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.