15 Menit Pertama Untuk Satu Tagihan

September 22, 2014 at 3:23 p | Posted in lucu | 4 Comments

image

   Bibirku, ku usap dengan lidah yang sepat bekas asap rokok yang kuhirup untuk menghilangkan anyir sperma yang baru saja ku telan.
Lidahku menjalar mengusap bibir bagian atas lalu ke bagian bawah, lalu mempertemukan keduanya. Masih bisa kucium bekas aroma selangkangan laki-laki yang baru saja kupuaskan.

   Ia tergulai lemas setelah mencium keningku. Kutinggalkan saja ia ke kamar mandi, membersihkan semua sisa-sisa yg tertinggal di tubuhku. Aku bahkan tak suka bau vaginaku sendiri. Keputihan sisa menstruasi yang baru saja tuntas, membuatku enggan bercinta.

   Kupeluk kekasihku yang berkumis tebal berbadan tambun. Perutnya lebih mirip adonan kue yang baru saja diuleni. Aku suka menyentuhnya dengan ujung jariku, lalu melepas, menyentuhnya lagi, dan melepas lagi. Perutnya akan bergerak-gerak layaknya jeli. Aku akan terkekeh-kekeh melihatnya.

   Aku tak pernah suka bau mulut laki-laki. Tak pernah kucium yang wangi. Aku benci berciuman bibir. Ia tau, kekasihku yang berkumis tebal dan berbadan tambun itu tahu, bahwa aku tak suka mencium bibirnya. Ia mencium tanganku mesra, sambil mengeluarkan kata-kata rayuan cinta. Aku muak tapi tersenyum. Aku hapal semua yang ia katakan.

   Tapi cinta bukan lagi tentang bagaimana merasa, melainkan bagaimana menata. Selama ia dapatkan vagina, ia akan tetap cinta. Dan selama ada tagihan yang harus kubayar setiap bulannya, aku akan selalu cinta dia. Sungguh cinta yang mulia. Memberi dan menerima.

   Banyak yang membenciku karena memiliki kekasih berkumis tebal dan berbadan tambun, menurut mereka, aku hanya mau uangnya saja. Persetan dengan mereka, kekasihku pun hanya mau vaginaku saja. Apa menurut mereka uang lebih berharga daripada vagina? Hingga aku saja yang mereka hina?

    Aku mengusap bibirku dengan lidah yang masih sepat. Membasahi setiap permukaannya dengan ludah. Rambutku kembali terikat, dan wajahku kembali terbenam. Bulan ini tagihan membengkak.

50 galah

May 14, 2014 at 3:23 p | Posted in lucu | 7 Comments

“Nak, apa suamimu menyenangkanmu?” Tanya ibu tua kepada anak perempuannya yang kuyu.
“Iya, bu. Dia menyenangkanku” jawab perempuan kuyu dalam balutan kain batik yang dibebet dari leher hingga pinggang.

Cuaca sedang dingin, angin gunung turun bersama kabut, malam sebentar lagi larut. Ibu tua dan anak perempuannya yang kuyu berjalan menyisir lereng bukit menuju rumahnya. Membawa senter dan kayu untuk berjaga-jaga.

“Bapakmu sudah tak ada, ibu takut kau tak bahagia” ibu tua menoleh sekilas, melihat anaknya menunduk saat ibunya bertanya
“Saya bahagia, bu. Seperti yang ibu lihat” perempuan kuyu itu menoleh pada ibu tua sambil tersenyum. Ibu tua ikut tersenyum meski ia tahu, anaknya tak tersenyum dengan tulus.
“Kau membeli baju bekas di pasar malam, apa suamimu kurang memberi uang? Tanya ibu tua dengan nada selidik. Perempuan kuyu menarik nafas panjang. Wajahnya semakin tertunduk dan senyumnya semakin hilang.
“Baju bekas di pasar malam, kualitasnya bagus, mereknya terkenal”
“Juga murah?” Sambar si ibu tua.

Perempuan kuyu berjalan tanpa bicara. Ia tak menjawab apapun dari pertanyaan terakhir ibunya. Ia melangkah lebih cepat. Rumah terasa jauh sekali.

“Bu, sudah sampai rumah ibu, saya tidak mampir ya. Saya ingin cepat sampai rumah saya sendiri, suami saya mungkin sudah pulang” ucap perempuan kuyu lalu mencium tangan ibunya
“Nak, ingatlah, ada kebahagiaan dalam ikhlas”

“Bu, ingatlah, ada kebahagiaan dalam ikhlas” perempuan kuyu mengulang kata-kata ibunya, untuk dikembalikan pada ibu tua.
Ia lalu berjalan menjauh dari rumah ibunya, menuju rumahnya sendiri yang berjarak 50 galah. Ibu tua masih berdiri di depan rumahnya menanti bayang anaknya hilang di kejauhan

Perempuan kuyu berjalan dipinggir jurang, lalu mematikan senter dan menutup mata. Tangannya membentang
“Tuhan, aku ikhlas”

Malam itu tenang. Kabut tak pekat, bulan bersinar sebelah, bintang berhambur. seorang ibu tua berbaring pada dipan bambu. 50 galah darinya, ada seorang lelaki muda sedang mengelus elus ayam jago piaraannya. 50 galah dari laki-laki itu, ada seorang perempuan kuyu di dasar jurang.

Jakarta Satu Kata

April 20, 2014 at 3:23 p | Posted in lucu | 6 Comments

Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, apa yang terlintas dalam pikiran, jika anda merangkum kota Jakarta dalam satu kata? Apakah pikiran anda memutar memori menyenangkan tentang kota ini? Atau mengingatkan pada kenangan buruk?

Jakarta adalah daerah khusus ibu kota, yang berpenduduk 9,7 juta jiwa di tahun 2012. Menjadikan kota Jakarta sebagai kota terpadat di Indonesia. Sebagian besar kepadatan disumbang oleh pendatang dari berbagai daerah bahkan negara. Jika kita bandingkan 69 tahun yang lalu, saat Indonesia merdeka, penduduk Jakarta hanya 600 ribu jiwa, lalu meningkat 3 kali lipat dalam waktu hanya 5 tahun menjadi 1,7 juta jiwa di tahun 1950.

Mengapa Jakarta? Mengapa pendatang dari berbagai daerah di Indonesia tertarik untuk datang ke kota Jakarta? Sementara, dari hastag #JakartaSatuKata yang saya mainkan pada hari jumat tgl 18 April lalu, membuktikan bahwa banyak sekali kata yang tidak menyenangkan tentang kota ini.

Berikut dua contoh twitter dengan hastag #JakartaSatuKata dan #InfoJakarta :

1

2

Dari dua tanggapan twitter saya diatas, Jakarta Dapat disimpulkan. seperti itulah keadaan Jakarta, sebagaimana nara sumber lainnya juga mendukung pernyataan bahwa Jakarta merupakan kota yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik secara materil.

selain survey kecil di twitter, saya juga berkesempatan menanyakan langsung pada para pendatang yang memutuskan untuk menetap di Jakarta.

 

IMG_39051

 

Jakarta itu soal orang-orang di dalamnya.”
Andi Fachri @andiFa (Single 29 tahun)
Finance Analist.
Asal kota Semarang. Di Jakarta sudah 3 tahun. Memilih Jakarta sebagai kota perantauan karena karir yang dipilih, hanya tersedia di Jakarta.

IMG_38901

 

Jakarta macet, sih. Tapi melatih kesabaran. Bagi saya, Jakarta adalah Melting Pot kehidupan”
Lukman Simba @lukmansimbah (Single 31 tahun)
Life Recorder, Urban planner cum social activist
Asal kota Surabaya. Di Jakarta sudah 1 tahun. Memilih Jakarta sebagai kota perantauan karena oportunity yang ditawarkan kota ini lebih banyak dari kota asal.

Jakarta memang tidak bisa dirangkum dengan hanya satu kata. Mengingat begitu banyak hal di dalamnya. Jakarta juga bukan kota yang ramah untuk para pendatang maupun penduduknya sendiri. Namun, Jakarta menjanjikan lebih banyak hal dibanding kota lain di Indonesia. Meski Jakarta punya sisi gelap disetiap ceritanya, Jakarta tak pernah kehilangan pesona bagi siapa saja. Bagaimana Jakarta anda?

4 Kota 4 cinta

February 18, 2014 at 3:23 p | Posted in lucu | 9 Comments

Surabaya

Surabaya saya anggap sebagai kota saya. bukan tempat lahir, tapi tempat saya belajar dewasa. Orang tua saya memang berasal dari Jawa Timur, tapi seumur hidup saya, saya ke Jawa Timur untuk merantau. Tahun 1997 saya datang ke kota ini untuk melanjutkan kuliah. Sementara orang tua saya tinggal di Binjai. Sebuah kota kecil bersebelahan dengan Medan Sumatra Utara. Saya berada di Surabaya sekitar 12 tahun, kalau saya tidak salah hitung.

Surabaya kota yang relatif menyenangkan. Terutama orang-orangnya. Karakter Jawa Timur yang terkenal keras dibanding Jawa lainnya, mungkin mempengaruhi warga Surabaya untuk lebih terbuka. Bicara apa adanya, sedikit menyimpan dendam, dan masih  ada kesopanan pada sesama, dan yang tua.

Coba saja nilai bagaimana karakter warganya dari cara mereka berlalu lintas. Surabaya bahkan jadi daerah percontohan untuk masalah lalu lintas. Mulai dari sosialisasi Sabuk Pengaman, Helm, sampai  Kanallisasi. Kemacetan memang kerap terjadi, terutama pada jam-jam pergi dan pulang kerja, weekend panjang, apalagi malam tahun baru. Diluar itu, jalanan cukup bersahabat. Mencari jalan tidak terlalu sulit, karena tidak terlalu banyak jalan layang dan tidak terlalu susah memutar jika salah  jalan.

 

Medan

Lalu saya pindah ke kota ini. Kota yang seharusnya sudah familiar karena orang tua saya tinggal bersebelahan dengan Medan. tapi kenyataannya tidak. Saya merasa asing sekali di kota ini. yang saya lakukan di kota ini kalau keluar rumah, cuma ke tempat orang tua saya yang jaraknya sekitar 30 kilo, lalu sorenya kembali lagi. Itu saya lakukan seminggu 4 sampai 5 kali. Selain itu, saya tidak keluar rumah.

Yang menyeramkan dari kota ini buat saya adalah karakter warganya dan keadaan jalannya. Saya memang menilai karakter warga suatu kota dari lalu lintasnya. Jadi anda bantu saya menilai ini; Jalanan memang sempit, Volume mobil tidak sebanyak di surabaya, tapi sering sekali macet. bukan karena volume kendaraan, tapi karena mobil, angkot, sepeda motor yang berhenti, parkir, putar balik seenaknya. Lampu merah nyaris tidak ada gunanya. 

Anak muda yang ugal-ugalan mengendarai sepeda motor terpampang jelas di mana-mana. Helm cuma syarat menghindari polisi. knalpot sepeda motor bisingnya memalukan. dan kaca spion? menurut mereka cuma pecundang yang pakai kaca spion. Rambu-rambu cuma hiasan. Melawan arus di kota ini bukan cuma dilakukan pengendara sepeda motor, truk juga sering melawan arus, saya serius. Seorang ibu bilang ke saya “kalau berhasil nyetir di Medan, berhasil nyetri di mana aja” saya setuju untuk yang satu ini. cukup satu tahun saya di kota ini, dan berusaha tidak kembali meski dekat dengan orang tua.

 

Denpasar

Meski cuma dua tahun di kota ini, saya merasa akan kembali ke kota ini suatu hari nanti. saya suka kota ini karena keseimbangannya. Ada sisi gemerlap dari kota ini yang tidak pernah tidur. Ada juga sisi sepi. Ada hedonis, ada Agamis. Ada kecanggihan modern dan budaya yang terjaga. Ada Mall yang megah, ada Sungai, gunung, dan sawah. Apalagi pantainya yang ada di mana-mana. Ada tempat-tempat indah buatan manusia yang membuat saya menganga, ada keindahan alam buatan Tuhan yang buat saya tercengang. Sungguh keseimbangan yang susah saya cari di kota lain.

Selain itu hanya di kota ini saya mendapati “Nyepi”. Meski saya tidak merayakan hari raya Nyepi, saya lebih suka berada di Kota ini. Masa-masa ini berharga sekali buat saya, karena di manapun saya berada nanti, saya tidak akan menemukan suasana sepi seperti ini. Sepi yang benar-benar sepi.

Untuk karakter warganya yang saya nilai melalui lalu lintasnya, memang tidak sebaik Surabaya, tapi pemakluman saya masih menoleransi kesalahan-kesalahan yang saya temukan di jalan. kota ini memenuhi semua prasyarat untuk saya tinggali. hingga saya berusaha untuk kembali.

 

Jakarta

 And now here i am.  Siapa yang tak kenal Jakarta. kota ini kota kelahiran saya, dan saya seperti anak yang durhaka pada ibunya. Saya selalu menghindari kota ini. Otak saya bergerak terlalu lambat, tubuh saya merespon lambat sementara kota ini bergerak terlalu cepat. kota ini memang menawarkan kesempatan-kesempatan yang tidak ditawarkan kota lain. fasilitas-fasilitas lengkap di sini.

Karakter penduduknya? hahaha…

 

Tawa

January 5, 2014 at 3:23 p | Posted in lucu | 5 Comments

Seorang lelaki lusuh membawa sekantong belanjaan, berhenti di sebuah rumah kayu yang terbakar hampir habis.
Pemadam kebakaran berusaha menghentikan kobaran api, agar rumah sekitar tidak ikut terbakar. Berhasil. Tapi rumah kayu itu habis terbakar.

Lelaki lusuh itu lalu tertawa terpingkal-pingkal.
Suara tawanya mengundang heran orang2 di sekitar.
Selain heran, orang orang mulai berbisik bisik

“Dasar setan!”
“Dasar nggak punya perasaan!”
“Dasar nggak punya empati!”

Laki laki itu tetap tertawa sambil memegang perutnya, ia tertawa geli sekali.

Lalu ia didatangi seorang pemadam kebakaran
“Pak, apa yang lucu dari kebakaran rumah? Apa bapak tidak bersimpati dengan korban? Pikirkan perasaan mereka, jika ingin tertawa, tertawalah di tempat lain”

Lelaki itu berusaha bicara dengan sisa sisa tawanya dan tangan masih memeluk perutnya
“Itu rumah saya, dan semua yg saya punya ada di dalamnya”
Ia kembali tertawa.

Sesampah

July 30, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 7 Comments

Selama bulan puasa, sehabis subuh saya sering jalan-jalan ke pantai bersama teman hewan saya. Pantai yang sering saya kunjungi, dinamai Sindhu. Letaknya bersebelahan dengan pantai Sanur. Pantai tempat menikmati matahari terbit.

Setiap pagi, saya mengamati di sepanjang bibir pantai akan ada orang-orang petugas kebersihan berseragam hijau yang sedang membersihkan bibir pantai. Sampah-sampah digaruk oleh satu orang, menjadi tumpukan-tumpukan kecil. Lalu seorang lainnya menggali pasir menggunakan cangkul, dan mengubur sampah-sampah organik. Sementara orang lainnya mengumpulkan sampah plastik dalam karung, dan membawanya ke truck yang menunggu di pintu masuk.

Sepulang dari pantai, di perjalanan, saya juga bertemu dengan petugas kebersihan lain yang juga berseragam, sedang membersihkan selokan-selokan besar. Mereka menggunakan arit yang diikat pada bambu panjang, dan garukan. Sampah yang susah terburai akan di cacah menjadi kecil.

Kita semua tau, ketidakpuasan kita pada pemerintah, dikarenakan mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan ketimbang kepentingan rakyat banyak. Tapi dari sisi kecil ini, saya melihat, kita masyarakat lah yang egois.

Pantai itu dibersihkan setiap pagi, begitu juga selokan besar itu. Tapi sampah tidak pernah berkurang dari hari ke hari. Pada sore hari, sampah di pantai jadi banyak sekali. Menurut anda, siapa yang membuat sampah itu kembali banyak? Pemerintah kah? Menurut saya, bisa jadi. Karena kurangnya fasilitas tempat sampah.

Bukankah saya harus membela rakyat kecil? Jadi walaupun saya tau, pengunjung yang datang, yang saya yakin sebagian besar bukan pemerintah, yang membuang sampah sembarangan, Saya akan tetap membela mereka. Walau mereka bertindak bodoh. Begitulah.

Perihal yang sama juga terjadi dengan selokan itu. Ada penyedia jasa pengangkat sampah, yang setiap, dua atau tiga hari sekali akan datang mengangkat sampah anda di rumah. Anda tinggal mengumpulkannya, masukkan dalam kantong plastik atau kardus, lalu mereka akan mengambil sampah tersebut. Tidak perduli anda memisahkan sampah basah dan kering, tajam atau tidak, berbahan kimia atau tidak, mereka akan tetap mengangkutnya. Sebagai imbalan, untuk daerah dekat selokan itu, anda harus membayar 35.000 per bulan. Yg artinya sehari tidak sampai 1200 rupiah.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Banyak yang memilih membuang sampah itu di mana saja. Yang di pantai seenaknya meninggalkan sampah mereka. Yang di rumah, memilih membuang sampah ke selokan daripada membayar bulanan.

Ironisnya, setiap banjir datang, kita juga mencari kambing hitam. Pemerintah dulunya juga rakyat, bukan? Lalu datang dari mana sifat egois mereka?

Satu Langkah Saja

June 13, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 6 Comments

Ada hal-hal besar di semesta ini yang tak mampu tangan kita sentuh.
Ada hal-hal besar di dunia ini yang telah rusak, yang tak mampu kita perbaiki.
Ada tangan-tangan yang lebih besar bahkan dari seluruh tubuh kita, yang telah merusak bumi kita.

Kita takut
Kita kecil
Kita lemah
Kita tiada daya
Kita terjungkal dengan satu sentil

Aku punya mimpi, beribu tawon datang menyengat tanganku.
Biar sakitnya tak terperi.
Asalkan tanganku lebih besar lagi.
Agar bisa kujungkal mesin-mesin
Agar berhenti memperkosa ibu.

Ketika ku bangun, aku menangis.
Tanganku tetap kecil, dan ibu masih dikejami.
Luka ibu menganga terkoyak tangan raksasa.

Tangan kecilku menjahit sulam demi sulam kecil.
Menutup luka ibu yang telah menganga maha besar.
Mungkin jika ku telah tua dan siap tiada, luka itu pun akan tetap maha.
Tak apa, setidaknya tanganku meringankan sedikit saja.

Adakah Kita

May 15, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 2 Comments

Mau kah kau terima cintaku?
Tapi, ini hanya cinta yang biasa saja.
Ini mungkin tidak sesuai dengan cinta yang kau bayangkan.
Mungkin tidak membawamu terbang melayang.

Maukah kau menjadi kekasihku?
Tapi, ada kemungkinan suatu hari nanti aku akan bosan denganmu.
Ada juga kemungkinan aku tertarik dengan orang lain.
Ada juga kemungkinan aku tidak setia.
Ada lagi kemungkinan aku tidak terus menarik.

Maukah kau menggandeng tanganku?
Walau ditengah jalan ada kemungkinan aku melepasnya?
Atau aku lelah dan ingin berhenti saja.
Atau aku ingin menggandeng tangan yang lain.

Mau kah kau mendampingiku?
Meski semua kemungkinan buruk akan terjadi?
Meski cintaku tak selalu tanpa alasan?
Meski aku tak menjanjikan kau bahagia?

Maukah kau jika aku hanya aku?

Sepak Bola

May 12, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 3 Comments

Suatu hari saya mendengar seorang pemuka agama mengatakan “apapun yang lebih banyak menimbulkan kerusakan daripada manfaat, maka haram hukumnya.”
Kalau hal ini terjadi pada sepak bola bagaimana?
Anda rela?

Maria

April 22, 2013 at 3:23 p | Posted in lucu | 6 Comments

Akulah perempuan suci dan terhina
Akulah perawan beranak lelaki
Aku dihina dan dipuja
Aku di fitnah dan dipercaya
Akulah bunda dan anak perempuan
Akulah anggun dan darah pada ujung pedang.
Aku menabur cinta kasih tak urung menuai benci.
Akulah perempuan dibalik anak lelaki yang tak pernah terlupa.

Next Page »

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 95 other followers